Minggu, 12 Juli 2015

Wiwin, Anak Kost Pemuas Napsu Kami 3

Cerita Seks Dewasa Terbaru Terbaik - Wiwin Anak Kost Pemuas Napsu Kami
Sambungan Dari Wiwin Anak Kost Pemuas Napsu Kami 2

Tampaknya rangsangan yang dirasakan Wiwin lebih besar dari yang dapat ditahannya. Kulihat dan kurasakan tubuh dan kakinya bergetar, tubuhnya semakin melengkung ke depan dan akhirnya dia roboh..., kami bertiga (sambil tetap melanjutnya hisapan kami) menahan tubuh itu dan dengan perlahan–lahan membaringkannya ke atas karpet. Kini dia tidur telentang, tetap bergoyang-goyang menahan rangsangan jilatan dan hisapan kami.

Tiba-tiba Dwi melepaskan hisapannya pada puting dada Wiwin, dan menoleh ke Atok yang masih duduk bengong di karpet.
”Ini Tok.., gantian lo yang ngisep. Enak bener rasanya. Kagak ada yang ngalahin“, katanya sambil menjepit puting Wiwin dengan jari telunjuk dan jempolnya.

“Rasain deh.”
Atok (yang tampaknya juga sudah terangsang berat) segera menyerbu dan memasukkan buah dada bahenol itu ke mulutnya hingga kembali terdengar suara berkecipak dan sedotan dari mulutnya.

Kulirik ke bawah, tampak Deni tetap bersemangat menjilat dan mengisap kemaluan Wiwin yang kini tampak sangat basah. Pinggul gadis itu tetap bergerak-gerak dengan liar mengimbangi jilatan Deni, pahanya yang mulus terangkat ke atas dan menelikung kepala Deni. Aku sungguh ingin merasakan memek si Wiwin, tetapi kutahan dahulu nafsuku. Aku punya rencana lain.
Aku melepaskan hisapanku pada dada Wiwin, dan berdiri. Kulepaskan celana pendekku, sehingga kini kemaluanku tampak tegak berdiri siap tempur. Kemudian aku merendahkan tubuhku dan mendekatkan kemaluanku ke mulutnya.

”Isepin Win...”, kataku penuh nafsu, ”Kamu mau kan?”.
Tetapi pada saat itu kurasakan tangan Dwi menepis lenganku.
”Gua duluan, brengsek” katanya parau.
”Gua udah ngimpiin sejak semalem“, kulihat dia, ternyata Dwi sudah telanjang bulat dan juga mengarahkan kemaluannya yang super besar (paling besar di antara kami bertiga) ke mulut Wiwin.
Wiwin terkikik-kikik, pura-pura bingung.
”Aduuh.., bagaimana nih? Kok ada dua kontol rebutan minta diisep? Wiwin bingung dah“.
Tapi sambil berkata begitu, kedua tangannya memegang kemaluanku dan kemaluan Dwi dan segera membetotnya ke mulutnya.

”Gih, masukin aja dua-duanya. Wiwin demen banget.”
Dibukanya mulutnya lebar-lebar, dan dimasukkannya kepala kemaluan kami ke dalamnya. Tentu saja tidak bisa masuk semua, tetapi cukuplah bagi Wiwin untuk menyapu-nyapukan lidahnya ke kepala kemaluan kami. Aku mendesah. Seakan rangsangan listrik menjalari batang kemaluanku, rangsangan yang sungguh luar biasa. Jari-jari lentik Wiwin memegang batang kemaluanku dan batang kemaluan si Dwi serta mengocoknya dengan berirama. Kami berdua mengerang-erang menahan nikmat.
Akhirnya aku tak tahan lagi.
”Dwi, gua duluan yah. Gua udah mau muncrat rasanya.”

Dwi menangguk, dan mencabut batang kemaluannya dari mulut Wiwin. Mulut Wiwin sekarang bebas, dan aku segera mengambil posisi. Dengan gaya anjing mau kencing, kukangkangi kepala Wiwin dan kusodorkan kemaluanku ke mulutnya. Wiwin dengan hangat menyambut dan langsung mengisap hampir separuh panjang kemaluanku. Kurasakan lidahnya berputar-putar di kemaluanku, dan sesekali giginya menggigit-gigit kecil dengan gemas. Sementara kulihat tangan kirinya tetap mengocok batang kemaluan Dwi dengan berirama.
Aku semakin menggila. Dengan setengah menelungkup, kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku keluar masuk mulutnya. Ditingkahi dengan jilatan lidahnya di sekujur batang kemaluanku dan sedotan-sedotannya yang terasa semakin lama semakin kuat, aku merasa tidak tahan lagi. Aku menegangkan bagian bawah badanku, kutarik kemaluanku sehingga agak jauh dari kerongkongan Wiwin (supaya dia tidak tersedak, pikirku), dan crooot..., crooot..., muncratlah seluruh air maniku di dalam mulutnya. Hebat sekali, si Wiwin sama sekali tidak mengendorkan sedotan dan tarian lidahnya selama proses ejakulasiku berlangsung. Hanya kurasakan desahan napasnya kian memburu dan matanya kini sama sekali tertutup.

Setelah seluruh maniku keluar, aku tetap menelungkup di atas kepala Wiwin dan kemaluanku tetap berada di mulutnya. Meskipun senjataku terasa semakin mengecil, sepertinya Wiwin enggan melepaskannya. Kurasakan sedotannya masih berlanjut dan lidahnya (yang kini terasa sangat basah karena bercampur dengan air maniku) masih terus bermain menelusuri batang kemaluanku. Tetapi kenikmatan itu tidak berlangsung lama. Si Dwi yang sejak tadi dikocok-kocok kemaluannya oleh Wiwin, tampaknya sudah tidak sabar lagi. Didorongnya tubuhku sehingga hampir terjengkang ke kanan.
”Gantian lu, brengsek. Gua sudah nggak tahan.”
Dan tanpa basa basi lagi didorongnya kemaluannya ke mulut Wiwin yang setengah terbuka dan masih belepotan air maniku.

Wiwin tampak sangat kewalahan dengan tindakan si Dwi yang tampak seperti kesetanan itu. Temanku yang biasanya pendiam itu sungguh berubah menjadi mahluk yang liar dan ganas. Digoyangkannya pinggulnya sekuat tenaga, tanpa memperhatikan apakah Wiwin tidak mati tersedak karena ulahnya tersebut. Kulihat juga wajah Wiwin tampak menahan serangan itu, mulutnya terbuka lebar disesaki oleh batang kemaluan Dwi yang super besar dan kudengar gumamannya, “Mmmpph..., mppppff..”, dengan nada memprotes.

Aku yang sekarang duduk menggelesot di lantai karpet melihat adegan itu, dan kulihat juga si Deni dan Atok juga menghentikan aktivitasnya dan memandang adegan ganas itu dengan mulut melongo. Aku hampir saja akan mengingatkan si Dwi supaya tidak terlalu ganas bekerja, ketika tiba-tiba dia menghentikan “goyang ngebor”-nya dan mengerang keras.
”Haagh..., gua kelu...”, kata-katanya terputus ketika dia menegangkan badannya.
Tanpa melihatpun aku bisa mengetahui bahwa dia sedang melepaskan simpanan air maninya di dalam mulut Wiwin.

Kulihat wajah Wiwin memerah, matanya melotot dan karena dia dalam posisi telentang maka tidak ada air mani yang lolos keluar dari kerongkongannya. Tampaknya dia sudah tidak kuat lagi, dan didorongnya tubuh Dwi ke samping sehingga Dwi terguling di karpet. Wiwin membalikkan tubuhnya, dan dengan napas tersengal-sengal menundukkan kepala dan mengeluarkan sebagian mani di mulutnya ke karpet.
”Aduuh..., kalian keterlaluan deh. Kalo napsu ya napsu tapi inget dikit doong..., kan Wiwin bisa mati kesedak. Hi, hi, hi..”.

Wah, aku kira dia akan marah tapinya malah terkikik-kikik ketawa. Dengan genit dicubitnya si Dwi.
”Itu burung isinya berapa liter sih? bisa bikin anak sekampung beneran.”
Mendengar itu Dwi hanya diam saja. Napasnya masih tersengal-sengal.

Bersambung Ke Wiwin Anak Kost Pemuas Napsu Kami 4
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.