Pada saat itu kulihat Deni semakin blingsatan gerakannya, napasnya semakin memburu dan tangannya semakin ganas meremas buah dada Wiwin yang seperti balon.
”Win, cepetin goyangannya. Aku mau keluar”, erangnya.
Wiwin (sambil terus mengulum kemaluan Atok) semakin memperkuat goyangan pinggulnya, dan akhirnya dia ikut menjerit.
”Aduuh, Mas Denii.., aku juga mau keluaar”.
Kulihat tubuhnya menegang, sebelum akhirnya melemah kembali. Kulihat ke arah kemaluannya, tampak cairan membanjir keluar dari sela-sela kemaluan Deni dan bibir kemaluan Wiwin. Campuran air kenikmatan kedua insan tersebut begitu banyak, mengalir ke arah bola kemaluan Deni dan bercampur dengan air mani Atok.
Wiwin tampak sangat menikmati orgasme itu. Dia menelungkupkan badannya ke tubuh Deni, matanya tertutup dan napasnya tersengal-sengal. Tangan kanannya masih meremas-remas kemaluan Atok yang kini duduk di dekat kepala Wiwin. Deni memeluk tubuh bahenol yang ada di atasnya itu.
”Kamu puas Win? Bagaimana pelayanan kami berempat?”
Wiwin mendesah puas, tetap menutup matanya.
”Asyiklah Mas, luar biasa kalian ini. Kalau tahu begini dari dulu aku nggak perlu bingung cari-cari laki-laki pemuas napsu.”
“Kan ada Roni”, kata Atok menimpali.
”Memangnya dia nggak pernah beginian sama kamu?”
Wiwin mencibir, ”Uuh..., si Roni?” tanyanya.
”Boro-boro. Orang alim macem itu.., tiap kali pacaran kerjanya cuman kasih nasehat doang. Paling banter cium bibir. Pegang susu aja kagak berani”.
Aku tertawa menimpali, ”Bego banget si Roni ya. Ada barang begini indah dia ngak mau. Gratisan lagi”, kataku sambil mengelus-elus punggung Wiwin yang masih tidur telungkup di atas tubuh si Deni.
Wiwin memukul tanganku, ”Enak aja, gratisan.., emangnya gua apaan?”, katanya sambil tertawa.
Dia kini berusaha berdiri, tetapi limbung dan akhirnya jatuh dan tidur telentang di sebelah tubuh Deni.
”Aduuh.., gua capek sekali nih. Maklum belum sehat”, katanya.
Dan seperti dikomando, mulailah serangan batuknya yang sejak kami mulai main tadi entah kenapa sama sekali berhenti. Aku pergi ke kulkas dan memberikan botol air es padanya.
”Minum dulu Win”, kataku.
Dia hanya minum seteguk.
”Udah ah, aku tadi udah minum mani kalian banyak sekali. Itu kan juga obat”, katanya sambil berdiri.
”Udahan dulu ya, Wiwin harus pergi ke rumah temen sekarang. Tapi Mas-Mas mau maen kaya tadi lagi kan? Wiwin pengen sekali lho, Oke?”
“Oke Wiin”, jawab kami seperti koor.
“Asyiklah kalau begitu. Sekarang gua sudah dapet dua, lainnya pasti menyusul”, katanya.
Aku tidak mengerti maksudnya. Wiwin berdiri, menyambar daster kebesarannya, tersenyum manis dan masuk ke kamar mandi. Tinggallah kami berempat di ruang tamu, telanjang bulat dan sama sama terdiam setengah bengong memikirkan apa yang tadi baru kami alami.
Itulah awal dari segalanya...
Mulai hari itu, Wiwin menjadi “mainan” kami. Tidak peduli pagi, siang, sore atau malam, setiap ada kesempatan kami selalu menggerayangi dan menikmati tubuhnya. Wiwin tidak pernah mengeluh, tidak pernah menolak, bahkan anehnya dia tampak “setengah memaksa” agar kita mau menikmati tubuhnya. Aku sadar dia ternyata pengentot yang luar biasa, sangat suka permainan oral (“main emut” istilah dia), dan tidak segan-segan melakukan segala cara yang tidak lazim untuk memuaskan nafsu seks kami.
Kuliah kami jadi kacau balau, karena kami lebih suka tinggal di rumah dan melakukan pesta seks dengan Wiwin daripada pergi ke kampus. Tidak ada rasa malu lagi bagi kami untuk bersetubuh secara bergiliran (kadang-kadang Wiwin duduk di kursi dengan kaki terkangkang di sandaran tangan kursi, dan kami bergiliran menyetubuhinya). Aku sudah mulai terbiasa bangun pagi dengan “jam weker” si Wiwin (dia memang kalong, paling telat tidurnya dan paling cepat bangunnya di antara kami). Caranya membangunkan kami adalah dengan mengulum dan menarik-narik batang kemaluan kami secara bergantian, sampai kami bangun.
Kalau sudah begitu, siapa yang masih punya pikiran untuk ikut kuliah pagi? x_x
TAMAT
Demikian Cerita Seks Dewasa Terbaru Terbaik yang berjudul Wiwin Anak Kost Pemuas Napsu Kami. Semoga anda terhibur dan puas..
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.