Sambungan Dari Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 7
"Ah... sayang, Mas masukin nanti saja deh... hh.. liang vaginamu masih sangat sempit dan kering sayang."
"Kemaluanku sakit Mas", erang Dina lirih.
"Yahh... Mas tahu sayang kamu kan masih perawan, kita bercumbu dulu sayang, Mas kepingin melihat Dik Dina orgasme", bisikku bernafsu. Segera kurebahkan badanku di atas tubuhnya dan memeluknya dengan kasih sayang, "aahh..." aku menggelinjang nikmat merasakan kehangatan dan kehalusan kulitnya, apalagi saat dadaku menekan kedua buah payudaranya yang montok rasanya begitu kenyal dan hangat, puting-puting susunya terasa sedikit keras dan lancip, mm.. mm. Kemudian kurasakan pula perut kami bersentuhan lembut dan yang paling merangsang adalah saat batang penisku yang kucabut tadi kini menekan nikmat bukit kemaluannya yang empuk.
Ingin rasanya aku mencoba untuk memasuki liang vaginanya lagi dan mengeluarkan air maniku sebanyak-banyaknya di dalam situ tapi aahh, aku tak ingin hanya diriku saja yang merasakan kenikmatan, aku ingin mencumbu kekasihku ini dulu, mengulum bibirnya, meremas dan mengenyot-enyot kedua buah payudaranya dan terakhir akan kucumbu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke kaki, kukecup dan kucumbu alat kelaminnya, kujilati bibir vagina dan clitorisnya sampai Dina kekasih kecilku ini merasakan kenikmatan seks sesungguhnya dan orgasme sepuasnya. "Dina... hh.. bagaimana perasaanmu sayang", bisikku mesra. Ia memandangku dari jarak yang kurang dari 10 centi dan tertawa renyah.
"mm... Dina bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini", ujarnya polos.
"Iyaa sayang, anggaplah Mas suamimu saat ini sayang", bisikku nakal.
"Iih.. Mas Ari, mm... mm.. Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik... mmbhh", belum sempat ia selesai ngomong, aku sudah melumat bibirnya yang nakal itu, Dina membalas ciumanku dan melumat bibirku dengan mesra. Kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan Dina langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Semua terasa indah. Kurayapkan jemari tangan kiriku ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhnya mulai pundak terus ke bawah sampai ke pinggulnya yang hangat padat dan kuremas gemas, ketika tanganku bergerak kebelakang ke bulatan bokongnya yang bulat merangsang bersamaan dengan itu aku mulai menggoyangkan seluruh badanku menggesek tubuh Dina yang bugil terutama pada bagian selangkangan dimana batang penisku yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan bukit kecil milik Dina yang empuk, kugerakkan pinggulku secara memutar sambil kugesek-gesekkan batang penisku di permukaan bibir kemaluannya yang empuk sambil sesekali kutekan-tekan nikmat.
Dina ikut-ikutan menggelinjang kegelian namun ia sama sekali tak menolak walaupun beberapa kali kepala penisku yang tegang salah sasaran memasuki belahan bibir kemaluan atau labia mayoranya seolah akan menembus liang vaginanya lagi. Ia hanya merintih kesakitan dan memekik kecil kalau aku salah menekan.
"Aawwww... Mas saakiit", erangnya membuatku makin terangsang saja.
"Aahh.. Dina... kemaluanmu empuk sekali sayang, ssshh", aku melenguh keenakan. Setan-setan burik di belakangku semakin gila berjoget dangdut, seolah-olah bernyanyi, "Hangat terasa... terlenaa". Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, aku menggeser tubuhku kebawah sampai mukaku tepat berada di atas kedua bulatan payudara yang bundar bak buah apel, kini ganti perutku yang menekan bukit kemaluannya yang empuk itu, woooww enakk.
Jemari kedua tanganku secara bersamaan mulai menggerayangi gunung "Fujiyama" miliknya itu, seolah hendak mencakar kedua payudaranya kelima jemari masing-masing tanganku kurenggangkan satu sama lain dan membentuk seperti cakar burung dan aku mulai menggesekkan ujung-ujung jemariku mulai dari bawah payudaranya di atas perut terus menuju gumpalan kedua buah dadanya yang kenyal dan montok. Dina merintih dan menggelinjang antara geli dan nikmat.
"Mass... mm... iih geli Mas", erangnya lirih. Beberapa saat kupermainkan kedua puting-puting susunya yang kemerahan dengan ujung jemariku. Dina menggelinjang lagi, kupuntir sedikit putingnya dengan lembut. "mm Mas..." Dina semakin mendesah tak karuan. Aku tak tahan, secara bersamaan akhirnya kuremas-remas gemas kedua buah dadanya dengan sepenuh nafsu. "Aawww... Mas... nngggg", Dina mengerang dan kedua tangannya memegangi kain sprei dengan kuat. Aku semakin menggila tak puas kuremas lalu mulutku mulai menjilati kedua buah dadanya secara bergantian.
Lidahku kujulur-julurkan menjilati seluruh permukaan susunya itu sampai basah, mulai dari payudara yang kiri lalu berpindah ke payudaranya yang kanan, kugigit-gigit puting-puting susunya secara bergantian sambil kuremas-remas dengan gemas sampai Dina berteriak-teriak kesakitan. "Maass.... ssshh... shh... oohh.... oouwww... masss", erangnya. Lima menit kemudian lidahku bukan saja menjilati kini mulutku mulai beraksi menghisap kedua puting-puting susunya sekuat-kuatnya. Aku tak peduli Dina menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali kedua jemari tangannya memegang dan meremasi rambut kepalaku yang bergerak liar, sementara kedua tanganku tetap mencengkeram dan meremasi kedua buah dadanya bergantian sambil kuhisap-hisap dengan penuh rasa nikmat.
Bibir dan lidahku dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua payudaranya yang kenyal dan padat. Di dalam mulut puting susunya kupilin-pilin dengan lidahku sambil terus menghisap sampai pipiku terasa kempot, aku menghayal meminum air susunya. Dina hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat ketika gigiku menggigiti putingnya dengan gemas, hingga tak heran kalau di beberapa tempat di kedua bulatan susu-susunya itu nampak berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitanku. mm... mm... ini benar-benar nikmat, susu asli cap Nona pikirku dalam hati.
Cukup lama sekali aku menetek susunya, mungkin sekitar 15 menit, sampai setelah cukup puas bibir dan lidahku kini merayap menurun ke bawah. Kutinggalkan kedua belah payudaranya yang basah dan penuh dengan lukisan bekas gigitanku dan juga cupangan berwarna merah bekas hisapanku, sangat kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih. Ketika lidahku bermain di atas pusarnya, Dina mulai mengerang-erang kecil keenakan, bau tubuhnya yang harum bercampur dengan keringatnya yang kas menambah nafsu seks-ku semakin memuncak, kukecup dan kubasahi seluruh perutnya yang kecil sampai basah.
Ketika aku bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirku yang tak pernah lepas dari kulit tubuhnya itu telah berada di atas gundukan bukit kemaluannya yang indah mempesona. "Buka pahamu Din.." teriakku tak sabar, posisi pahanya yang kurang membuka itu membuatku kurang leluasa untuk mencumbu alat kelaminnya itu. "Oooh... masss", Dina hanya merintih lirih, kelihatannya dia sudah lemas kupermainkan sejak tadi, tapi aku tahu dia belum orgasme walaupun sudah sangat terangsang semenjak kuhisap kedua buah dadanya.
Sekarang ini aku ingin merasakan kelezatan cairan kewanitaan dari liang vaginanya, sebab pernah sohibku bilang terus terang kepadaku kalau ia sangat ketagihan untuk selalu meminum cairan lendir pacarnya ketika mereka sedang melakukan oral seks, katanya rasanya aneh tapi membuat dirinya bergairah. Aku membetulkan posisiku di atas selangkangan kekasihku. Dina membuka ke dua belah pahanya lebar-lebar, ia sudah sangat terangsang sekali. Kini wajahnya yang manis kelihatan kusut dan rambutnya tampak awut-awutan. Kedua matanya tetap terpejam rapat namum bibirnya kelihatan basah merekah indah sekali. Kedua tangannya juga masih tetap memegangi kain sprei, kelihatannya dia tegang sekali.
"Sayang... jangan tegang begitu dong sayang", kataku mesra.
"Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau Dik Dina merasa nikmat, teriak saja sayang biar puass...." kataku selanjutnya. Sambil tetap memejamkan mata ia berkata lirih.
"I... iya mass eenaak sih mass", katanya polos. Aku tersenyum senang,
"Sebentar lagi kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa sayang", bisikku dalam hati, dan setelah itu aku akan merenggut kegadisanmu dan menyetubuhimu sepuasnya.
Kupandangi beberapa saat keindahan bentuk alat kelaminnya itu, baru pertama kali ini aku menyaksikan alat kelamin wanita. Ternyata di samping baunya sangat khas dan merangsang hidungku, keringat yang membasahi di sekitar selangkangannya pun berbau harum dan khas. Dari yang sering aku lihat di VCD ataupun di majalah, bentuk alat kelamin milik Dina ini termasuk masih Fresh, maksudnya di samping masih belum ditumbuhi sehelai rambutpun namun juga kulit di bibir vagina dan di sekitar alat kelaminnya itu tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang.
Labia mayoranya kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua labia mayoranya itu tertutup rapat sehingga aku tidak bisa melihat lubang vaginanya sama sekali. Benar-benar gadis perawan asli pikirku bangga. Aahh, betapa nikmatnya nanti saat celah kemaluan dan liang vaginanya menjepit batang penisku, akan kutumpahkan sebanyak-banyaknya nanti air maniku ke dalam liangnya sebagai tanda hilangnya keperjakaanku.
Bersambung Ke Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 9
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.