"Iiihh... Dik Dina... takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu", tanyaku geli.
"Itu Mas, punya Mas", sahutnya lirih.
"Lhoo... katanya sudah sering nonton film BF kok masih takut, Dik Dina kan pasti sudah lihat di film itu kalau alat vital punya cowok itu bentuknya gini, nah ini yang asli dik, the real thing sayang", sahutku geli. Dalam hati nih cewek barangkali kepingin tahu bagaimana rasanya digampar pakai penis cowok,
"Iya... m..Mas, tapi punya Mas mm besar sekalii", sahutnya masih sambil menutup muka.
"Yaach... ini sih kecil dik dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, punya mereka jauh lebih gueedhee... kalau punya Mas kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong punya Mas kamu pegang sayang, ini kan milik Dik Dina juga", sahutku nakal.
"Iiih... malu aah Mas, jorok."
"Alaa.. malu-malu sih sayang, Mas Ari yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa Dik Dina yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang punya Mas dipegang biar Dik Dina bisa merasakan milik Dik Dina sendiri", sahutku sembari kuraih kedua tangannya yang masih menutupi muka, pada mulanya dia menolak sambil memalingkan wajahnya ke samping, namun setelah kurayu-rayu akhirnya mau juga kedua tangannya kubimbing ke arah selangkanganku, namun kedua matanya masih dipejamkan rapat. Dalam hati malu-malu tapi mau, jangan-jangan kalau sudah diberi, batang penisku malah diobok-obok, Joshua kali ngobok-obok air.
Jantungku berdegup kencang juga saat melakukan itu, soalnya bagaimanapun juga seumur hidup belum pernah aku telanjang di depan cewek sambil mempertontonkan alat vitalku sendiri, apalagi sampai dipegang-pegang segala. Wheeh... seperti mimpi rasanya saat jemari kedua tangan Dina mulai menyentuh kepala penisku yang sedang ereksi. Apalagi batang penisku masih tetap manggut-manggut nggak bisa diam, Maklumlah the first time. Pada mulanya jemari tangannya hendak ditarik lagi saat menyentuh batang penisku yang ereksi namun karena aku memegang kedua tangannya dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang benda kesayanganku itu, akhirnya ia hanya menurut saja saat kurayu dia agar mau melakukannya.
Pertama kali Dina hanya mau memegang dengan kedua jemarinya yang mungil. "Aah... terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu dik", rayuku penuh nafsu.
"Iiih... keras sekali Mas", bisik Dina sambil tetap memejamkan matanya. Wajahnya yang manis kelihatan tegang dan sedikit berkeringat.
"Iya sayang, itu tandanya Mas sedang ereksi sayang, ayo dik genggam dengan kedua tanganmu, aahh..." aku mengerang nikmat saat tiba-tiba saja Dina bukannya malah menggenggam lagi tapi malah meremas kuat. Ia terpekik kaget.
"Iiih sakit mass..." tanyanya melihatku berteriak dan menggelinjang geli dan nikmat, remasan kedua jemari tangannya yang halus itu seolah membuat diriku kesetrum keenakan. Dina menatapku gugup. Dan di sekitar situ aku tak melihat sehelai rambut kemaluan pun. Begitu bersih dan putih alat kelamin milik Dina itu. Aku hanya bisa melongo menyaksikan keindahan bukit kemaluannya dan tanpa terasa kedua tanganku sampai gemetar menyaksikan pemandangan yang baru pertama kalinya ini. "Oohh.. Dina, indahnya..." Hanya kalimat itu yang sanggup kuucapkan saat itu, selanjutnya aku masih melongo menikmati keindahan sorga dunia milik kekasihku Dina.
Bau yang keluar dari alat kelamin miliknya membuat hidungku jadi kembang kempis menikmati aroma aneh namun terasa menyenangkan buatku. Sesaat aku tiba-tiba mendengar suara sreek... sreeek... di atasku ketika aku mendongak ternyata kekasihku itu sedang membuka baju kaosnya, belum habis rasa kagetku setelah melemparkan kaosnya sekenanya kedua tangannya lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka BH-nya dan tesss... BH itupun terlepas jatuh di mukaku. Puk, langsung aku jatuh terduduk dan hanya bisa melongo menyaksikan pemandangan indah yang lain.
Selanjutnya Dina melepas juga celana dan CD-nya yang masih tersangkut di mata kakinya, lalu sambil tetap berdiri di depanku mulutnya tersenyum manis kepadaku, walaupun wajahnya sedikit memerah karena malu ia berusaha untuk tetap tersenyum. Alamak... buah dadanya itu ternyata memang berbentuk bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya puting-puting kecilnya saja yang tampak berwarna merah muda kecoklatan. aah, cantiknya kekasih kecilku ini apalagi kalau sedang telanjang bulat seperti ini, aku tak menyangka tubuhnya yang sedang mekar ini sudah memiliki keindahan yang sangat sempurna. " Dina kamu cantik sekali sayang", bisikku lirih.
Batang penisku semakin cenat-cenut tegang tak karuan. Lalu Dina mengulurkan kedua tangannya kepadaku mengajakku berdiri lagi. Kini rasanya kami seperti Adam dan Hawa saja. Bertelanjang bulat satu sama lain seperti kaum nudis saja. "Mass... Dina sudah siap, Dina sayang sama Mas, Dina akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan", bisiknya mesra. Aku merangkul tubuhnya yang telanjang merasa terharu. Badanku seperti kesetrum saat kulitku menyentuh kulit halusnya yang hangat dan mulus apalagi ketika kedua payudaranya yang bulat menekan lembut dadaku yang bidang. aah... aku merintih nikmat. Jemari tanganku tergetar saat mengusap punggungnya yang telanjang, begitu halus dan mulus. Aku tak sanggup menahan gejolak nafsuku. Setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik batang penisku agar aku segera menyetubuhinya. "Aahh.. Dina kita lakukan di kamar yuk, Mas sudah kepingin begituan sayang", bisikku tanpa malu-malu lagi. Dina tersenyum dalam pelukanku. "Terserah Mas saja, mau melakukannya dimana", sahutnya mesra.
Tooiinng... batang penisku langsung manggut-manggut seolah sangat setuju. Dengan penuh nafsu aku segera meraih tubuhnya dan kugendong ke dalam kamar. Saat itu aku sempat melirik jam didinding ruangan sudah setengah tiga sore. Waah harus cepat nih, bisa kemalaman nanti. Kurebahkan tubuh Dina yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun harus berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena memang aku sengaja menutup semua gorden agar tak kentara dari luar, walaupun gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang, jadi sebenarnya sangat aman.
Aku segera membuka gorden agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu kusibakkan sinar matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Kulihat tubuh Dina yang telanjang bulat kelihatan mengkilap karena pantulan sinar matahari namun tak sampai menyilaukan mata.
Jantungku berdegup kencang saat kunaiki ranjang dimana tubuh Dina yang telanjang berada, ia memandangku tetap dengan senyumnya yang manis. Aku merayap ke atas tubuhnya yang bugil dan menindihnya, aku tak sabar ingin segera memasuki tubuhnya. "Buka pahamu sayang, hh... Mas ingin menyetubuhimu sekarang", bisikku bernafsu.
Aku merasakan kehangatan saat kulitku bersentuhan dengan kulitnya yang halus mulus. Buah dadanya kelihatan sangat kencang dan bundar dengan puting-putingnya yang kemerahan sangat menawan hatiku, namun kutahan sementara keinginanku untuk menjamah buah terlarangnya itu. "Mass..." ia hanya melenguh pasrah saat aku setengah menindih tubuhnya dan batang penisku yang tegang itu mulai menusuk celah bukit kemaluannya, mencari liang vaginanya. Kurasakan bukit kemaluannya terasa lunak dan hangat. "Aahh..." tanganku tergetar saat kubimbing alat vitalku mengelus bukit kemaluannya yang empuk lalu menelusup di antara kedua bibir kemaluannya.
"Sayang... Mas masukkan yaah... kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan."
"Pelan-pelan Mas ....", bisiknya pasrah. Lalu dengan jemari tangan kananku kuarahkan kepala penisku yang sudah tak sabar ingin segera masuk dan merobek selaput daranya itu. Dina memeluk pinggangku mesra, sementara kulihat ia memejamkan kedua matanya seolah menungguku yang akan segera memasuki tubuhnya.
Aku mencari liang vaginanya di antara belahan bukit kemaluannya yang lunak, aku tak dapat melihat celah vaginanya karena posisi tubuhku yang memang tak memungkinkan untuk itu namun aku berusaha untuk mencari sendiri. Kucoba untuk menelusup celah bibir kemaluannya bagian atas namun setelah kutekan ternyata jalan buntu. "Agak ke bawah Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas... mm.. yah tekan di situ Mas... aawww pelan-pelan Mas sakiiit", Dina memekik kecil dan menggeliat kesakitan, namun segera kupegang pinggulnya agar jangan bergerak.
Akhirnya aku berhasil menemukan celah vaginanya itu setelah kekasihku itu menuntunku, akupun mulai menekan ke bawah, "Hhggkkghh..." kepala penisku kupaksa untuk menelusup ke dalam liang vaginanya yang sempit, terasa hangat dan sedikit basah. Kukecup bibir Dina sekilas lalu aku berkonsentrasi kembali untuk segera dapat membenamkan batang penisku sepanjang 14 centi itu seluruhnya ke dalam liang vaginanya. Dina mulai merintih dan memekik-mekik kecil ketika kepala penisku yang besar mulai berhasil menerobos liang kemaluannya yang sangat-sangat sempit sekali.
"Tahan sayang... Mas masukkan lagi, hhggghh.... ahh sempit sekali sayang aahh", erangku mulai merasakan kenikmatan dan "sssrrrtt" kurasakan kepala penisku berhasil masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang vaginanya. "aawwww.... masss sakiit..." teriak Dina memelas, tubuhnya menggeliat kesakitan. Aku berusaha menentramkannya sambil kukecup mesra bibir mungil yang basah merekah dan kulumat dengan perlahan. "mm... cuupp... cuuppp."
Lalu, "Hhgghh... tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, Mas tekan lagi yaah", bisikku di antara rasa pedih dan nikmat karena jepitan liang vaginanya itu begitu ketat seolah-olah kepala penisku diremas oleh sebuah daging yang sangat kuat cengkeramannya walaupun terasa hangat dan lunak. Waah, ini harus diminyaki dulu nih pikirku, kalau aku langsung memperawaninya bisa-bisa batang penisku ikut-ikutan lecet. Akhirnya sambil menahan keinginan seks-ku yang sudah menggelora kucabut kembali alat vitalku yang baru masuk kepalanya saja itu dengan perlahan. mm... nikmatnya saat penisku menggesek celah vaginanya.
Bersambung Ke Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 8
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.