Sambungan dari Mengumbar Birahi di Bandung 2“Hallloooo…anybody home? Kok diam sih?” serunya, mengejutkan
“Ooohhh maaf…kaget…soalnya surprise…kaya ketiban bulan, diajak dating bidadari” jawabku. “Dasarrrr…kamu tuh…ketiban aku baru rasa, cepat mandi dong, casual aja ya” menutup pembicaraan.
Tidak usah disuruh dua kali akupun langsung mandi, keramas, berpakaian casual, parfum disemua ‘sudut’ tubuh dan langsung menuju kekamarnya. Saat pintu terbuka aku hanya bisa ‘melongo’ melihat penampilannya yang ‘casual’, Vini mengenakan rok jeans sedikit diatas lutut dengan dengan belahan dipaha kiri depan yang cukup tinggi, atasan kaos melekat ketat ditubuhnya dengan bahu terbuka, sungguh pemandangan yg menyekat kerongkongan.
“Hiii…kok bengong lagi sih” tegur Vini menyadarkan aku dan kamipun segera bergegas. Setelah puas menyantap soto sulung dan sate ayam dipojok jl. Merdeka kami lanjutkan menghabiskan malam disalah satu kafe di daerah Gatsu, Vini memilih seat di bar yang agak memojok dengan cahaya lampu yang minim. Aku memesan tequila orange double dengan ekstra es sementara Vini memilih illusion, hentakan musik yg keras membuat kami harus berbicara dengan merapatkan telinga dengan lawan bicara, saat itulah, aku mencium aroma parfum malamnya, ditambah dengan nafas yang menerpa telingaku saat berbicara membuat sensor birahiku menangkap sinyal yang menggetarkan bagian sensitif ditubuhku.
Waktu band memainkan lagu yang disukainya Vini turun dari kursi, bergoyang mengikuti irama lagu, sebuah pemandangan yang menakjubkan, gerakan pundak telanjangnya, tangannya dan pinggulnya begitu serasi. Erotis namun tidak memberikan kesan vulgar, dan saat kami ‘turun’ ditempat (bukan di dance floor)—lebih tepat disebut berpelukan dengan sedikit gerakan—buah dadanya sesekali menyentuh tubuhku, aku merasakan getaran-getaran halus dan hangat menjalar diseluruh tubuhku. Entah pada ‘turun’ yg keberapa kali aku memberanikan diri, kukecup lembut lehernya dan…”Ehhh…” hanya itu yg keluar dari bibirnya yang sensual. Seolah mendapat ijin akupun memeluknya lebih erat serta sekilas mengecup lembut bibirnya, setelah itu Vinilah yang memberikan kecupan-kecupan kecil di bibirku…Malam yang indah.
Sebelum tengah malam kami meninggalkan kafe, dalam taksi menuju hotel Vini menyandarkan kepalanya di dada kananku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, kuangkat dagunya membuatnya tengadah. Sekilas kami perpandangan, bibirnya bergetar, Vini memejamkan matanya seakan mengerti keinginanku segera saja kubenamkan bibirku di bibirnya, kecupan lembut yang semakin lama berganti dengan pagutan-pagutan birahi tanpa peduli pada supir taksi yang sesekali mengintip lewat kaca spion. Lidah kamipun menggeliat-geliat, saling memutar dan menghisap, sementara tanganku meraba-raba dadanya dengan lembut, belum sempat bertindak lebih tidak terasa taksi kami telah sampai di hotel.
Kamipun bergegas menuju lift dan melanjutkan lagi apa yang kami lakukan di taksi, kusandarkan tubuhnya di dinding lift memagut leher dan pundaknya yg putih telanjang. “Reno…eeehhh…” desahnya. Keluar lift Vini menarik tanganku kekamarnya, begitu pintu kamar ditutup Vini langsung menarik kepalaku memagut bibirku dengan bernafsu, lidahnya kembali menggeliat-geliat di mulutku namun lebih liar lagi. Kusandarkan tubuhnya di dinding kamar agar tanganku lebih leluasa, tangan kananku memeluk pinggulnya sementara tangan kiri mulai meremas-remas buah kenikmatannya yang begitu kenyal.
Kejantananku membatu, ingin rasanya segera kukeluarkan dari kungkungan celana tapi kutahan, aku ingin menikmati semua ini perlahan-lahan. Kutarik pinggul Vini sambil menekan pinggulku membuat “perangkat” kenikmatan kami beradu—walaupun masih terbungkus—membuat desiran darah kami meningkat dan semakin memanas saat kami menggesek-gesekannya. “Ahhhhhh…Ren…”desah Vini kembali dan saat itu kurasakan lidahnya yang hangat basah menjalar di telingaku melingkar-lingkar di leherku. “Eeehhh…aahhh…” giliran aku yang mendesah merasakan permainan lidahnya.
Lidahnya semakin turun kedadaku sementara jari-jari lentiknya membuka kancing bajuku satu per satu. Dan… lidahnya berpindah keputing dadaku, berputar-putar jalang, mengecup, menghisap dan sesekali menggigit-gigit kecil. “Terus Vin….terusss…ahhhhh…” suaraku bergetar meminta meneruskan kenikmatan yang diberikan mulutnya. Kurasakan Vini semakin liar memainkan mulutnya yang semakin turun. Ia berlutut saat lidahnya meliuk-liuk di pusar sambil tangannya membuka celanaku. Vini meremas, mengecup dan menggigit-gigit lembut kejantananku yang masih terbungkus cd dan setelah itu Ia memasukan tangannya kedalam cd dan mengeluarkan milikku yang sudah membatu. Ia menggenggam dan menggosok-gosokkan jempolnya di ujung kepala kejantananku yang sudah basah menimbulkan rasa ngilu yang nikmat…dan…akhirnya…lidahnya berputar-putar disana.
“…aaakhhhhh…ssshhh…”desahku tak tertahan manakala lidahnya semakin kencang bergerak dibawah kepala kemaluanku dan diteruskan keseluruh batang dan buah zakar. “Enakkkk Vin…
aaahhhh…kamu pintar sekaliii…hisap cantik…hisapppp…” aku meracau tidak karuan memintanya melakukan lebih lagi.
Vini mengerti betul apa yang harus dilakukannya, dikecupnya kepala kejantananku dan dimasukannya…hanya sebatas itu!…dan mulai menghisap-hisap sambil tetap lidahnya menjilat-jilat, berputar-putar…serangan ganda!!!…sunguh nikmattttt!!! Setelah itu barulah Ia menelan semuanya membuat seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan. Kuraih kepalanya memasukan seluruh jari-jemariku dirambutnya yang halus dan menggenggamnya, dengan demikian memudahkan aku mengatur gerakan kepalanya. Namun semakin lama genggamanku tidak lagi berguna, karena ritme gerakan kepalanya semakin cepat mengkocok-kocok kemaluanku membuat tubuhku serasa melayang-layang, semakin aku mengerang kenikmatan semakin cepat Vini menggerakan ritme kocokannya.
“Nikmat Vin…ahhhhh…lagi…lebih cepat…ooohhhhh” pintaku diselah-selah erangan yang semakin tidak terkontrol. Dan begitu kurasakan akan meledak segera kutahan dan kutarik kepalanya, aku tidak ingin menyelesaikan kenikmatan ini dimulutnya.
Kuangkat tubuhnya dan kupeluk mesra. “Suka?…”bisiknya bertanya. “Suka sekali…kamu hebat…” jawabku berbisik sekaligus menjilat dan menghisap kupingnya. “Ooooooohhh…” erang Vini.
Kubalas apa yang Ia lakukan tadi, kupagut leher dan pundaknya serta membuka atasan dan bra 34b-nya, dua bukit kenikmatannya yang bulat putih itupun menyembul dengan puting kecil pinkies yang sudah mengeras. Lidahkupun segera beraksi menjilat-jilat putingnya “Eeeehhhhh…Reno…” lenguh Vini dan membusungkan dadanya meminta lebih, kuhisap putingnya “Auuhhhhhh…akkhhh…”erangannya semakin keras, hisapanku semakin menggila bukan lagi putingnya tapi sebagian buah dadanyapun mulai masuk kedalam mulutku. “Aaaaghhh… Ren…aaauuhhh…kamu ganaaas….”jeritnya.
Puas melumat buah kenikmatannya gilirin aku yang berlutut sambil melepas roknya, tampaklah cd mini putih menutupi kewanitaannya. Kuelus-elus bagian yang terhimpit paha dengan jari tengahku terasa lembab dan kumasukan dari sisi cdnya sehingga menyentuh daging lembut basah.
“Renooooo…uugghhhhhhh…”kembali erangan birahi keluar dari mulutnya waktu ujung jariku mulai bergerak-gerak di mulut kewanitaannya sementara mulutku sibuk mengecup dan menjilat sebelah dalam paha mulusnya. Beberapa saat kemudian penutup terakhir itu kulepaskan, rambut2 halus tipis menghias kewanitaannya dengan klitoris yang yang menyembul dari belahannya. Kuangkat kaki kirinya meletakan tungkainya di bahu kananku sehingga leluasa aku melihat seluruh bagian kenikmatannya.
Akupun mulai sibuk menjilati dan sesekali menghisap-hisap klitorisnya. “Aaaaaaaa…Renoooo…” jerit Vini tertahan sambil menjambak rambutku yang panjang, lidahku bergerak cepat menggeliat-geliat menjilat kewanitaannya yang semakin basah, sementara jariku berputar-putar didalamnya. “Ssshhhh…eeehhhh” desis Vina merasakan hisapanku yang kuat di lubang kenikmatannya.
Kubuka bibir kewanitaannya dan menjulurkan lidahku lebih dalam dalam lagi Vinipun membalas dengan menyorongkannya kemukaku, praktis semua sudah dimulutku, kumiringkan sedikit kepalaku sehingga memudahkan aku “memakan” semua kewanitaannya.”Renooooo...stoppp….aaahhhhh…aku ngga tahannnnnn…”aku tidak memperdulikan keingingannya bahkan semakin menggila “My godddd…Rennn…shhhfff…pleasee…stop” tangannya sekuat tenaga menarik rambutku agar mulutku terlepas dari kewanitaannya.
Bersambung ke Mengumbar Birahi di Bandung 4 (TAMAT)
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:

0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.