"Lalu kalau Dina... sampai ha.. hhaamil gimana mass?" ujarnya sembari menatapku takut-takut dalam keraguan. Dalam hati aku tersentak kaget, nih cewek kok tahu yah kalau maksud sebenarku memang ingin bersebadan dengannya. Kebetulanlah pikirku, nggak perlu aku berpura-pura lagi.
"Aah, jangan khawatir sayang, Mas akan bertanggung jawab semuanya kalau Dik Dina sampai hamil oleh Mas yah Mas pasti mengawini Dik Dina secepatnya, bagaimana sayang?" bisikku semakin tak sabar. Batang penisku makin cenut-cenut selain sakit karena salah posisi juga terasa makin membesar saja,
bayangkan saja aku merasa sudah tinggal selangkah lagi keinginanku terpenuhi, bayangan tubuh mulus, telanjang bula, pasrah, siap untuk diperawani, siap untuk digagahi, masih ABG lagi, ahh alamak seandainya.
Tanganku bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan kini mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan sampai ke bahu lalu kuremas lembut. Kupandangi gundukan bulat menantang bak buah apel Malang dari balik baju kaosnya yang ketat, BH putihnya yang kecil menerawang kelihatan penuh terisi oleh daging lunak yang sangat merangsang. mm... jemari tanganku gemetar menahan keinginan untuk menjamah dan meremas gundukan payudara montoknya itu.
Oooohh... dan kulirik Dina, ternyata ia masih memandangku penuh keraguan namun aku yakin dari tatapan mataku ia pasti bisa melihat betapa diriku telah dilanda oleh nafsu birahi yang menggelora siap untuk menerkam dirinya, menjamah tubuhnya, meremas dan pada akhirnya pasti akan menggeluti dirinya luar dalam sampai puas. Aku berusaha tetap tersenyum, namun bisikan setan-setan burik di belakangku seakan menggelitik telingaku untuk berbuat lebih nekat, ayo... Ar perkosa saja, jangan tunggu lama-lama, hik.. hik... hik.., begitulah kira-kira yang kudengar.
Sialan pikirku, sedemikian ngeresnya otakku kah? Lalu kulihat bibir Dina bergerak perlahan,
"Mas... Mas Ari harus janji dulu sebelum..." ia tak melanjutkan ucapannya.
"Sebelum apa sayang, katakanlah", bisikku tak sabar. Kini jemari tangan kananku mulai semakin nekat menggerayangi pinggulnya yang sedang mekar itu, ketika jemariku merayap ke belakang kuusap belahan pantatnya yang bundar lalu kuremas gemas. Aduuh Mak, begitu lunak, hangat dan padat.
"aahh... Mas", Dina merintih pelan. Batang penisku makin cenat-cenut tak karuan, sakitnya nggak bisa diceritakan lagi, begitulah kalau salah posisi, mana tegangnya sudah nggak terkontrol lagi. Sementara setan-setan burik di belakangku mulai berjoget dangdut, terlenaa.... kuterlenaa... persis kayak suara Ike Nurjanah.
"Iiih.. Mas aah mmas.. Dina rela menyerahkan semuanya asal Mas Ari mau bertanggung jawab nantinya", Dina berbisik semakin lemah, saat itu jemari tangan kananku bergerak semakin menggila, kini aku bergerak menelusup ke pangkal pahanya yang padat berisi, dan mulai mengelus gundukan bukit kecil bukit kemaluannya. Kuusap perlahan dari balik celananya yang amat ketat, dua detik kemudian kupaksa masuk jemari tanganku di selangkangannya itu dan kini bukit kecil kemaluannya itu telah berada dalam genggaman tanganku. Dina menggelinjang kecil, saat jemari tanganku mulai meremas perlahan terasa empuk hangat dan lembut. Kudekatkan mulutku kembali ke bibir mungilnya yang tetap basah merekah hendak menciumnya, namun kembali Dina menahan dadaku dengan tangan kanannya, "eeehh Mas.. berjanjilah dulu Mas", bisiknya di antara desahan nafasnya yang mulai sedikit memburu. Kena nih cewek, pikirku menang.
"Oooh... Dina sayang... Mas berjanji untuk bertanggung jawab, aahh.... Mas menginginkan keperawananmu sayang.. katakanlah", ucapku semakin ngawur dan bernafsu. Sementara jemari tanganku yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahanya itu mulai gemetar hendak meremas gundukan bukit kemaluannya lagi, satu... dua... ti..., setan-setan burik di belakangku mulai ramai ngoceh seakan memberiku aba-aba,
"Ba.. baiklah Mas, Dina percaya sama Mas Ari", bisiknya lemah.
"Jadi...?" bisikku kurang yakin.
"hh.... lakukanlah mass... Dina milik Mas seutuhnya.. hh.."
Teng... teng... teng... hatiku bersorak girang seakan tak percaya, kaget campur haru, begitu besar pengorbanannya dengan perkataannya itu.
Tetapi sungguh aku tak pernah menyangka bahwa hari ini aku akan melakukan perbuatan yang mestinya sangat terlarang. Aku tahu nuraniku mengatakan ini sungguh sangat berdosa besar tetapi apalah artinya kalau nafsu telah menguasai dan mengungkungku saat itu, aku lupa diri, dan aku tak peduli akibat selanjutnya nanti, yang terpikirkan saat itu aku ingin segera menjamah tubuh Dina, merasakan kehangatannya, memesrainya sekaligus merenggut dan merasakan nikmat keperawanannya sampai nafsuku terlampiaskan.
"Benarkah..? ooh.. Dina sayanggg... cuppp cuppp..." Secepat kilat bibir mungilnya yang hangat merekah kembali kukecup dan kukulum nikmat. Kuhayati dan kurasakan sepehuh perasaan kehangatan dan kelembutan bibirnya itu, kugigit lembut, kusedot mesra, mm nikmat. Hidung kami bersentuhan lembut dan mesra.
Dengus nafasnya terdengar memburu saat kukecup dan kukulum bibirnya cukup lama, bau harum nafasnya begitu sejuk di dadaku. kupermainkan lidahku di dalam mulutnya, persis seperti yang dilakukan para bintang film Vivid, dan dengan mesra Dina mulai berani membalas cumbuanku dengan menggigit lembut dan mengulum lidahku dengan bibirnya. aah... terasa nikmat dan manis saat kedua lidah kami bersentuhan, hangat dan basah. Lalu kukecup dan kukulum bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil saat bibirku dan bibirnya saling beradu mengecup mesra. Tak disangka Dina dapat membalas semua kecupan dengan bergairah pula.
"aah.. Dina sayang... kau pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?" tanyaku curiga. Mukanya yang manis kelihatan sayu dan tatapan matanya tampak mesra, sambil bibirnya tersenyum manis ia menyahutiku.
"Mm... Dina belum pernah punya pacar Mas, ini ciuman Dina yang pertama kok Mas", sahutnya polos.
Bersambung Ke Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 5
Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:


0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.