Selasa, 14 Juli 2015

Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 2

Cerita Seks Dewasa Terbaru Terbaik - Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu
 Sambungan Dari Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 1

"Ooh... nnngg.. nggaak kok Mas..." jawabnya sambil tersenyum manis. Makin berani nih anak, bagus pikirku.
"Mmh... Mas boleh kenal nggak sama adik", pancingku kemudian.
"mm..." Ia nggak menjawab, tapi senyumnya semakin manis dan kedua tangannya saling meremas sambil diluruskan ke bawah tersipu malu.
"mm.. mm.. mm.."

"Kok cuman mm.. saja sih he.. he.. ya sudah deh kalau nggak boleh, Mas khan cuman nanya kalau..."
"mm... Dina Mas", tiba-tiba ia memotong ucapanku sambil tersenyum manis tentunya.

"Ooo... Dina toh, namanya bagus banget yaa..., oya kenalin deh namaku Ari", sahutku sembari kuulurkan tanganku kepadanya. Semula ia agak ragu, namun akhirnya ia meraih tangan kananku. Kujabat erat tangannya yang agak mungil, halus sekali cing, kaya tangan cewekku dulu.
"Mas Ari rumahnya di sini yaach..." tanyanya makin berani.
"Iyaa... memangnya kenapa?"
"Nggak kok, nggak pernah kelihatan sih Mas?"

"Kamu juga nggak pernah kelihatan, kok nanya?" candaku. Ia tertawa kecil, aku pun ikut tertawa.
Begitulah, tidak usah banyak cerita pembaca sekalian, semenjak itu aku dan dia semakin akrab dan setiap hari selalu janji ketemu di depan rumahku. Biasanya selepas pulang sekolah, aku pasti mengajaknya mampir dulu ngobrol di rumahku dulu, yang ternyata memang ia masih tetanggaku sendiri yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumahku. Karena kebetulan rumahku sedang kosong hanya pembantuku saja yang tinggal sementara orangtuaku sendiri belum pulang, hal ini seakan menjadikan momen bagiku untuk lebih mengakrabinya. Walaupun usiaku dan dia berbeda sangat jauh, karena dia masih 14 tahun namun itu bukan menjadi masalah bagi kami untuk saling bertukar pikiran. Ternyata dia malah kupikir terlalu dewasa untuk seusia dia, hal itu terbukti waktu pada hari kelima semenjak aku mengenalnya, hari itu Sabtu sepulang sekolah sengaja aku menjemputnya pulang dari sekolahnya.

Dina tampak kaget melihatku berada di depan sekolah, namun kemudian ia jadi gembira sekali sewaktu kubilang aku ingin menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Ia mengenalkanku pada teman-teman ceweknya yang lain, tapi mana aku peduli wong temannya masih kelihatan bau kencur semua he.. he... Akhirnya setelah aku mengantarnya pulang berganti baju, dan sekedar berbasa-basi bersilat lidah dengan mamanya, aku segera cabut membawanya ngeloyor keliling kota naik motorku.

Namun itu cuma basa-basiku saja, karena nggak sampai setengah jam, lalu ia kuajak pulang ke tempat kakakku yang memang juga kosong. Rencanaku memang sebelum orangtuaku pulang bersama saudara laki-lakiku, aku ingin lebih bebas berkencan ria dengan Dina. Pertimbanganku di rumah orangtua karena tempatnya di kampung yang ramai selain itu juga ada pembantu, jadi nggak enak dong kalau mengajak Dina ngobrol di kamarku misalnya, bisa-bisa aku kena lapor orangtua, sedang tempat kakakku ada di daerah perumahan yang relatif sangat sepi karena memang penghuninya banyak yang kosong. Sehingga dengan demikian aku bisa bebas berbuat apa saja bersama Dina.

Terus terang seminggu ini memang pikiranku lagi suntuk dan buntu, hal ini selalu terjadi bila nafsu seks-ku tak terlampiaskan. Maklum saja biasanya aku selalu ber-o-i-nani-keke bila terangsang, namun semenjak aku mengenal Dina, aku jadi malas untuk berbuat hal memalukan itu, aku jadi ingin merasakan seks sesungguhnya yang selama ini aku belum pernah merasakannya sama sekali. Kini kesempatan itu seolah telah datang, yang semestinya semenjak dulu aku lakukan. Aku menyesal kenapa dulu tak kuajak saja pacarku untuk ngesex, toh ia pasti mau melakukannya, karena pacarku sangat mencintaiku. Sekaranglah saatnya aku harus melepaskan fantasi-fantasi semu itu.

Aku tahu walaupun masih SMP Dina telah naksir berat padaku, akupun begitu padanya walaupun hanya sekedar sebatas sayang padanya. Aku belum bisa mencintainya, karena bagaimanapun juga ia masih sangat muda dan ia tentu belum paham arti cinta sesungguhnya. Bagiku ia hanya sekedar tempat berbagi suka dan canda. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika kami berdua sampai di perumahan TS (singkatan) di sebelah utara kawasan kota Malang (Belimbing), tempat kakak laki-lakiku tinggal yang sedang kosong itu. Setelah menutup pagar depan, segera kuajak Dina yang langsung menggelayut manja di sampingku untuk masuk ke dalam rumah.

Melihat ulahnya yang menggemaskan itu tanpa terasa batang penisku cenut-cenut mulai ereksi lagi. Aku segera memeluk tubuh bongsornya yang seksi itu dan dengan sedikit bernafsu segera kusosor saja pipinya yang putih mulus itu dengan bibirku. Dina sangat terkejut melihat ulahku, ia segera menepiskan pipinya dari bibirku, aku jadi nggak enak dibuatnya. "Eeeh.. Mas Ari... kok gitu sih ..." Dina memandangku sambil melotot seakan menghakimiku. Namun aku dapat segera mengendalikan diri, sambil tersenyum manis aku segera meraih tangannya dan kutarik masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu terasa sekali di dalam suasana agak remang-remang karena memang pagi tadi sebelum balik ke rumah orangtua, gorden sengaja tak kubuka untuk jaga-jaga saja, sapa tahu ada maling.

Sambil tetap kupegang tangannya erat-erat, kutatap wajah manisnya yang sangat innocen itu, wajahnya masih cemberut dan kelihatan marah, tapi aku tahu bagaimanapun juga selama 5 hari ini aku sudah yakin kalau ia naksir berat kepadaku dan pasti ia sangat sayang kepadaku. Ini merupakan senjata utamaku untuk mendapatkan dirinya. Sambil tetap tersenyum manis aku berkata padanya. "Dina... itu tadi berarti Mas Ari sayaang sama Dina, apa nggak boleh Mas Ari ngasih sun sayang?" rayuku...

Bersambung Ke Pengalaman Pertama Sama-Sama Lugu 3

Cerita Seks Terbaru dan Terbaik Selanjutnya:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.